Information and Links
Join the fray by commenting, tracking what others have to say, or linking to it from your blog.
- Other Posts
- Planet GIS Indonesia
- Lirik Geografis
Gitu Aja Kok Ga Tau
Saya baru saja kembali dari Kabupaten Bantul, wilayah dengan korban terbesar gempa bumi 27 Mei lalu. Dua minggu bersama Tim Mapala UI di sana, banyak pelajaran yang didapat. Salah satunya adalah memaklumi bahwa banyak hal yang orang lain tidak tau dan banyak pula hal yang saya tidak tau.
Seminggu setelah gempa, seorang teman “gregretan” menyaksikan berita di TV. Ditayangkan seorang dokter relawan yang sedang mengeluhkan, mengapa tidak ada informasi mengenai daerah mana yang membutuhkan dirinya atau bantuan lain saat itu. Dokter itu menyarankan untuk dibuatnya suatu sistem informasi “apa ya?”, yang dapat mengetahui kebutuhan suatu tempat di daerah bencana. Teman saya yang menonton berkomentar, “Sistem Informasi Geografis..!!, Gitu aja kok ga tau…”. Yup, tidak semua orang tau tentang SIG.
Setibanya disana, saya merujuk ke pendopo rumah Bupati. Ratusan relawan datang dan pergi, pertanyaan mereka hampir mirip, kemana sebaiknya saya menyalurkan bantuan yang tepat. Haa…??
Saat berada disana, saya juga mendapat sms hoax dan coba diluruskan oleh Priyadi dan rekan-rekan blogger . Teman-teman di posko ada yang panik, ada juga yang cuek. Lagi, komentar saya sama seperti teman saya sebelumnya, “Gitu aja kok ga tau..”.
Gempa susulan masih terus terjadi, hampir tiga kali sehari. Menempati ruang SMP yang masih diliburkan, saya dan tim masih terus melakukan pengumpulan data, pembagian logistik dan perawatan medis.
Seminggu setelahnya, sekolah mulai masuk dan tiba-tiba gempa susulan terjadi. Mulai terbiasa, saya memperhatikan sekeliling hingga gempa berhenti. Gempa susulan itu paling kecil menurut saya, dibanding sebelum-sebelumnya.
Meski begitu, tak ayal saya tetap menghentikan pekerjaan saya. Suara ribut di samping posko, tepatnya di sekolah penyebabnya. Semua siswa sekolah tersebut berlarian keluar sambil teriak histeris. Mimik mereka mengambarkan ketakutannya. Mereka trauma terhadap gempa.
Saya tak lagi berkomentar “Gitu aja kok ga tau…”. Seorang guru menghampiri kami dan meminta tolong untuk menenangkan para siswa. Tim saya menunjuk saya dan jadilah saya guru dadakan. Its, Ok.. I am enjoying it.
Mungkin saya terlalu naif, tapi sungguh, saya cukup heran. Tak satu pun dari mereka mengetahui bagaimana gempa bumi terjadi, dan mengapa menimpa tempat tinggal mereka. Tak hanya siswa, para penduduk sekitar juga tidak memahami mengapa terjadi gempa di daerahnya.
Memang, pengetahuan yang menurut kita biasa saja, bisa jadi merupakan pengetahuan yang memang dibutuhkan seseorang. Pesan moralnya, Mari Berbagi Pengetahuan…
Di kelas saya coba menenangkan mereka tentang gempa susulan yang kecil kemungkinan sebesar gempa pertama. Tidak jauh berbeda dengan tulisan dari IAGI . Bedanya, saya menambahkan mengenai lempeng tektonik. Dimana lempeng lebih dikenal sebagai suatu jenis makanan oleh siswa SMP tersebut..
Tentunya, masalahnya akan berkembang bukan hanya mengenai tau atau tidaknya kita tentang sesuatu, tapi mengarah pada apa yang harus kita perbuat setelah mengetahui sesuatu. Mengapa? Kalau hanya asal tau, mungkin kejadiannya sama seperti pengetahuan pemerintah tentang daerahnya. Mari lihat peta ini



aku terkesan sama critamu,aku merasa malu. Jujur, aku adalah mahasiswa geografi, apa yang anda katakan tentang SIG, bagikami tidak asing lagi, namun memang, khususnya aku, belum dapat membantu memberikan sumbangsih berupa informasi tentang penyebab gempa kepada masyarakat, padahal di kampus banyak kajian-kajian tentang gempa yang diberikan para pakar. Menurutku, yang jadi masalah saat ini adalah, masyarakat awam (tentang ilmu geografi) sulit untuk dapat menerima mentah-mentah istilah geografi, misal untuk yang anda sebutkan tadi, seperti,pergeseran lempeng, patahan dan sebagainya. Jadi bagaimana seharusnya???