Information and Links
Join the fray by commenting, tracking what others have to say, or linking to it from your blog.
- Other Posts
- Curahan Hati mengenai Geografi
- Permainan Kaos Oblong
Baik Buruk Persepsi Geografis
Dan kalau dicari referensinya melalui “om google” dengan kata kunci “persepsi geografis”, hanya ada dua tulisan ditemukan. Itu pun salah satunya tulisan saya sendiri di situs penulis lepas. Hasil tersebut menunjukan bahwa istilah persepsi geografis tidaklah populer digunakan. Setidaknya di dunia maya Indonesia.
Meski begitu, persepsi geografis telah membantu/mengarahkan kita dalam menentukan pilihan sehari-hari. Sadar maupun tidak. Baik maupun buruk. Anak-anak maupun dewasa.
Mengapa anak-anak dan dewasa, karena persepsi geografis memang tidak mengenal umur. Lagi-lagi, seperti halnya mental map, persepsi geografis memang dibentuk baik sadar maupun tidak. Saat berangkat sekolah waktu SD, saya tidak pernah mau lewat RT 09. Saya tinggal di RT 04. Mengapa? Karena menurut saya, banyak anak nakal disana.
Saya sadar, bahwa tidak semua anak di RT 09 nakal dan persepsi saya tersebut belum tentu benar. Terlepas benar atau salah, itulah persepsi geografis saya (saat itu) terhadap RT 09. Dan mempengaruhi keputusan saya dalam menentukan rute perjalanan sekolah.
Persepsi geografis seseorang memang berasal dari berbagai sumber. Kadang ketidakjelasan atau ketidakakuratan sumber mengarahkan kita pada pilihan yang kurang tepat. Cerita saya diatas mungkin hanya mengakibatkan saya memilih rute ke sekolah yang lebih jauh. Namun, bila persepsi geografis tersebut mempangaruhi hal-hal lebih besar, pengaruhnya juga akan lebih besar.
Contoh lain, persepsi geografis ibu saya terhadap “Aceh”. Ibu saya hingga sekarang melarang saya pergi ke Aceh. Di benaknya sudah terbayang daerah yang rawan gempa dan rawan pertempuran dengan GAM. “Pokoknya bahaya” ucapnya. Benar atau salah, itulah persepsi yang dimiliki ibu saya.
Sumber pembentukan persepsi geografis memang bermacam-macam. Namun, semua merupakan dari turunan kemampuan indera kita mencerap informasi, yaitu mata dan telinga dan tubuh kita. Contohnya, membaca buku, menonton TV atau film, mendengar radio, membaca koran, atau bahkan pengalaman pribadi.
Bila coba digolongkan, ada dua sumber, dari dalam diri dan luar diri. Dalam diri berarti pengalaman seseorang. Contoh menarik persepsi geografis seseorang mungkin peta yang dibuat oleh Christian Nold. Ia membuat biomapping, atau perasaan seseorang terhadap suatu tempat dalam kota-kota di Inggris. Silahkan lihat di www.biomapping.net/new.htm
Sumber kedua adalah luar diri seseorang, dan menurut saya, media massa lah yang memiliki pengaruh besar. Tentu kita sadar akan keinginan besar para saudara kita di desa-desa, berharap pergi ke kota akibat tayangan media massa menceritakan indah dan suramnya kota, terus menerus.
Sekali lagi saya ulangi, baik maupun buruk. Baik buruk persepsi yang terbentuk tidak masalah bila sesuai kenyataannya. Bahayanya, bila persepsi geografis itu tidak sesuai dengan kenyataan.
Masih ingat dengan masalah travel warning beberapa negara untuk Indonesia? Dan betapa besar pengaruhnya pada Indonesia? Jawabannya dapat kita lihat di dalam situs-situs berita.
Hal ini membuat saya sedih. Namun, lebih sedih lagi bila persepsi buruk dirasakan oleh masyarakat Indonesia terhadap negerinya sendiri. Bayangkan apa yang terlintas bila kita mendengar tempat bernama Ketapang, Poso, Ambon, Aceh, atau nama tempat yang pernah terjadi konflik.
Kembali, media massa lah pembentuknya. Semoga media massa pula yang akan mengembalikan citra baik tempat-tempat tersebut di dalam benak kita.



maaf persepesi mereka yang buat juga guru guru geografi juga kan. guru guru geo rata rata kurang punya kompetensi dibidangnya