Information and Links
Join the fray by commenting, tracking what others have to say, or linking to it from your blog.
- Other Posts
- Sekilas Geografi Radikal
- Geo-related Blog
Kita Dipaksa Menjadi Bukan Diri Sendiri
Beberapa waktu lalu saya sempat berkenalan dan bekerjasama dengan seorang profesional yang wilayah kerjanya sebagian besar adalah daerah yang terkena krisis, bencana atau konflik, entah itu di Afrika, Asia atau Timur Tengah.
“Timur Tengah”
Sewaktu masih di SD, saya bingung dengan istilah “timur tengah”, “timur jauh”, “timur dekat” dan “barat”. Kenapa negara-negara seperti Arab Saudi, Iran dan Iraq disebut “negara timur tengah”; China, Jepang dan Korea (Korea Utara dan Korea Selatan) disebut “timur jauh”; dan negara-negara Eropa dan Amerika disebut “negara barat”. “Di peta dunia yang biasa saya lihat, Arab Saudi, Iran dan Iraq itu berada di sebelah kiri (barat); China, Jepang dan Korea di bagian atas (utara). Eropa memang terlihat paling kiri. Tapi benua Amerika itu kan ada di sebelah kanan (timur),” pikir saya dulu.
Hangatnya berita Perang Iran-Iraq waktu itu semakin membuat istilah “timur tengah” lebih sering terdengar, baik di media elektronik (TVRI) maupun cetak. Lagi-lagi saya protes dengan istilah itu. “Tengahnya yang mana?” pikir saya lagi.
Beranjak lebih besar saya sedikit mulai mengenal konsep lintang, bujur, dan batas antara timur dan barat yang berada di Inggris. Pikiran anak kecil saya dulu masih belum bisa menerima Jerman (waktu itu masih terbagi dua, Jerman Barat dan Jerman Timur) dan negara Eropa lain disebut negara barat karena berada di sebelah timur garis batas 0.
Perang Iran-Iraq sudah lama berakhir dan kemudian “perang dingin antara barat dan timur” berakhir dengan kemenangan “barat”. Saya tidak keberatan dengan kalimat ini.
Tapi berita “timur tengah” belum juga hilang. Perang Teluk I pecah, dan istilah “timur tengah” kembali ramai.
Dari mana sih istilah ini datang?
Eropasentrisme (Eurocentrism)
Eurocentrism is the practice, conscious or otherwise, of placing emphasis on European (and, generally, Western) concerns, culture and values at the expense of those of other cultures. It is an instance of ethnocentrism, perhaps especially relevant because of its alignment with current and past real power structures in the world. It can be a less overt form of white supremacy. Eurocentrism often involved claiming cultures that were not white or European as being such, or denying their existence at all.
The source of a cultural tradition can be seen in the balance of emphasis given to various thinkers and ideas in discussing a subject. In the 1960s a reaction against the priority given to a canon of “Dead White European Males” provided a slogan which neatly sums up the charge of eurocentrism (alongside other important -centrisms).
Dari Wikipedia.
Dari Eropa, negara-negara yang disebut di atas memang benar berada di lokasi yang disebutkan (timur, timur tengah, dst). Dan itu sah-sah saja disebutkan oleh orang Eropa, dalam mental map mereka memang begitu adanya walaupun mereka sedang berada di bagian dunia lain, Australia misalnya.
Istilah ini pun masih kurang tepat disebutkan oleh orang Amerika, karena “timur” yang paling dekat dengan mereka adalah bagian barat Eropa dan Afrika, dan agak aneh menyebut “timur jauh” untuk merujuk negara-negara di bagian barat Pasifik jika melihat dari Amerika.
“Loh kan ada garis meridian nol sebagai batas timur dan barat, jadi Inggris dan negara-negara lain di selatannya bener dong kalo disebut barat?” pikir saya lagi.
“Iya tapi kalo mau ke Jepang kan lebih cepat ke barat aja daripada ke timur,” pikiran saya yang lain membantah, berandai-andai sedang berada di Amerika.
Istilah-istilah ini (timur, timur tengah, dst) terus digunakan, walau bukan oleh orang Eropa. Media di Indonesia yang banyak bermunculan di akhir 1990-an makin akrab dengan istilah ini, dan sepertinya tidak ada yang menggunakan istilah lainnya.
Lagi-lagi pikiran saya berontak untuk urusan sepele ini.
“Sepele?!” Pikiran lain saya kembali membantah, kali ini dengan nada meninggi. “Ini bukan sepele! Kita dipaksa untuk beranggapan sesuatu yang bukan kita!! Kita dipaksa menjadi bukan diri sendiri! “
Usaha melawan eropasentrisme bukan tidak pernah dilakukan. Dan untuk urusan “sepele” ini pernah dikenalkan istilah “Asia Barat Daya” sebagai pengganti “timur tengah” dan sebagainya. Tapi tetap saja “timur tengah” dan kawan-kawan masih juga menjadi kebiasaan sebagian besar orang, termasuk kalangan media di Indonesia.
“Tuh kan! Udah ada yang nyoba ganti.. tapi gagal.” Pikiran saya kembali berbicara. “Mau melawan dunia?!”
Kali ini pikiran saya yang lain tidak membalas. Dia terdiam.
“Orang Eropa boleh saja berkontribusi banyak buat peradaban, tapi gak bisa seenaknya gitu dong maksain pikirannya ke orang lain,” pikiran lain saya itu terus saja membantah.



orang Eropa engga maksa koq… tapi mbujuk dengan sangat-sangat halus