Information and Links

Join the fray by commenting, tracking what others have to say, or linking to it from your blog.


Other Posts
Banda Aceh dimana sih ?
Difusi Spasial

Mental Map

Posted by Danu Pujiachiri on December 14th, 2005

Sejak dahulu, manusia selalu mencoba untuk memahami lingkungannya. Hingga kini, manusia terus mencoba memahami lingkungannya. Contoh paling mudah adalah anak-anak. Naluri mereka untuk tau apa yang ada disekitarnya merupakan hal yang natural dan terus berkembang

Dalam ilmu psikologi perkembangan, dijelaskan perilaku mereka dalam mengenal lingkungan. Menggapai benda di dekatnya, mencoba menggigit, menimang-nimang, kemudian dibuang bila sudah bosan, merupakan contoh tindakan mengenali lingkungan, pada konteks ini cara mereka mengenali benda di sekitarnya.

Beranjak besar, mereka mulai memahami apa itu ruang. Dia mulai tau apa itu kamar mandi, ruang makan, tempat nonton TV, atau kamar tidurnya. Hal tersebut mereka ketahui karena pengalaman mereka “menjelajah” ruang-ruang tersebut. Yang pada akhirnya, tau kegunaan dari tiap ruang tersebut.

Bertambah besar, ia mulai mengenal teman di sekitar rumahnya. Main ke rumah teman, menambah pengetahuan akan tempat baru. Saat itulah mental map-nya berkembang.

Mental map, saya artikan secara bebas sebagai peta angan-angan. Peta yang bentuknya hanya khayalan yang ada di benak tiap orang. Kita mampu menunjukan arah suatu tempat yang tak terlihat dari tempat kita berdiri, karena kita memiliki mental map.

Sadar maupun tidak, kita membangun mental map tersebut. Pada anak dibawah 3 tahun, cakupan mental map-nya mungkin hanya seluas rumah. Ruangan dan isi dalam rumah, telah terpetakan di dalam dirinya. Ia tau dimana ia meletakan mainannya, tau tempat dimana ia mendapatkan air minum, dan benda lainnya.

Anak 4 tahun mungkin sudah bisa cakupannya hingga sejauh rumah temannya. Tentunya, mental map ini terus berkembang.

Ketika saya masuk SD, saya sudah menguasai jalan dari rumah hingga sekolah, rumah teman, paling tidak seluas RW saya. Masuk SMP, mental map saya meluas hingga sampai wilayah sekitar SMP. Masuk SMA, meluas lagi. Hingga kuliah saya, saya hampir tau seluruh daerah di Jakarta.

Tingkat ketelitian mental map sangat bergantung pada tempat yang pernah kita kunjungi. Semakin sering kita mengunjungi suatu tempat, semakin detail perhatian kita. Di luar itu, kita pun dibantu dengan peta (map) buatan orang lain. Contohnya, kita mampu mengetahui seluruh wilayah Indonesia karena melihat peta Indonesia.

Kini, cobalah ketelitian (detail) mental map anda! Dari tempat anda berada saat ini, Tunjuklah arah Kalimantan! Atau, arah Kota Semarang! Ya.., tunjuklah dengan tangan anda!!

Ketemu?? Bila tidak, cobalah tunjuk arah rumah anda!! Atau mungkin, saat ini anda berada di dalam rumah? Bila ya, tunjuklah arah dapur!!

Hal yang dapat membantu anda menunjukan tempat-tempat diatas, adalah peta angan-angan yang ada di dalam benak anda. Semua orang memiliki kemampuan ini. Dan mental map inilah pengganti indera mata bagi seorang tunanetra dalam melaksanakan aktifitasnya.

Kini, cobalah ketahui seberapa luas cakupan mental map anda!! Bayangkan mulai dari rumah, terus meluas dan meluas hingga anda tidak mendapatkan gambaran mengenai tempat itu. Meski begitu, terus perluas dan perluas lagi. Hingga pada akhirnya anda akan melihat bumi sebagai cakupan mental map anda.

Gambaran mental map anda tidak akan memiliki tingkat kedetailannya yang sama tiap daerahnya. Untuk sekitar rumah, pasti tingkat kedetailannya lebih tinggi. Anda bahkan tau jalan-jalan sempit disekitar rumah.

Untuk daerah yang lebih luas, mungkin kita sudah tau jalan-jalan di kota kita. Meski tidak sedetail pada daerah di lingkungan rumah.

Karena kemampuan ini dimiliki setiap orang dan kualitasnya berbeda-beda, maka



Write a Comment

Take a moment to comment and tell us what you think. Some basic HTML is allowed for formatting.

Reader Comments

jadi inget, pertama kali kenal (dikenalkan =:))istilah mental map saat kuliah di f. geografi ums surakarta. Waktu itu pengujian mental map pertama dilakukan dari kampus di pabelan sampai ke situs sangiran dan situs-situs lain di seputar solo.
Lucunya, hasil mental mapnya kacau balau saking tegangnya sepanjang perjalanan. ya untungnya nggak disusruh ngulangin perjalanannya.

kalo sering tersesat mental map-nya knapa yah?