Information and Links
Join the fray by commenting, tracking what others have to say, or linking to it from your blog.
- Other Posts
- Difusi Spasial
- Stupid Americans!
Pucuk Daun Bambu
Lihatlah di tiap perempatan jalan kota-kota besar di NKRI, selalu saja terpampang dengan mencolok huruf M melengkung yang sombong, simbol warung pojok ahli bikin roti tandem miskin gizi dari negeri sebrang sono. Khusus di sini, mereka menyediakan juga nasi timbel berbungkus kertas, bumbu pedas untuk ayam karbitan goreng, dan saus cabe merah. Inovasi, terobosan, atau apalah. Yang jelas dalam rangka sinkronisasi kinerja sistem pencernaan orang Indonesia mereka sukses besar menjual dagangannya. Hilangkah identitas, image, dll. dari huruf M melengkung itu gara-gara jualan nasi timbel dan sambel pedas? Kenyataannya huruf M makin menggelembung.. obesitas.
Begitu kira-kira gambaran dari seorang sahabat kawannya temen ane dari salah satu padepokan bela diri yang punya simbol pucuk daun bambu yang melambai-lambai. Saat itu kami sedang asik ngobrol mengenai kelenturan, fleksibilitas, penyesuaian, sinkronisasi, pemenuhan kebutuhan konsumen dll. Pokoknya ngelantur lah…. kesana kemari. Lama-lama, obrolan berlanjut mengerucut ke arah yang bertema fleksibilitas mata ajaran jurus-jurus di padepokan kebanggannya itu.
Ketika pada suatu saat terjadi musim keroyokan. Beberapa jurus di padepokannya dikembangkan lebih fokus ke jurus melarikan diri dari keroyokan. Konon hal tersebut diimplementasikan atas dasar pembahasan data dan informasi dari hasil survey. Hasil survey menyebutkan bahwa di kota-kota besar lebih banyak kejadian yang beresiko cedera akibat keributan yang diakibatkan banyak orang. Tawuran anak sekolah, demonstrasi-demonstrasi anarkis, perampokan berjamaah dll. Hasil musyawarah para suhu dan pendekar-pendekar yang melanglang buana di dunia luar menjadi landasan pengajaran baru, semua jurus-jurus yang diajarkan harus selalu diawali dan diakhiri dengan sprint… laaariii!
Filosofi bela diri yang sebenarnya? Ah…. itu cukup sebagai bumbu penyedap di tahun-tahun awal.
Waktu terus berjalan, musim berganti dengan musim peluru berseliweran di tempat yang tidak semestinya, tapi pendekar2 yang baru turun gunung bisanya cuman lariii…! Memalukan. Lari bukanlah solusi untuk menghindari butiran timah panas yang melesat lebih dari 666 km/jam. Survey dan informasi-informasi membuktikan timah panas yang melesat itu ternyata lebih banyak merengut nyawa manusia Asia daripada virus entok yang menyeramkan tapi hanya merenggut nyawa kurang dari 100 orang dari sekian milyar penduduk Asia dalam 2 tahun. Wah… ilmu kebal peluru akhirnya jadi pilihan untuk menjadi fokus ajaran. Para calon pendekar pada periode ini nampaknya jadi lebih banyak diajari bertapa, padepokan lebih banyak belanja kemenyan. Kitab-kitab metafisika, jurnal-jurnal paranormal dll. jadi bacaan wajib. Elmu kebal peluru… itulah inti dari tujuan belajar beladiri.
Filosofi bela diri yang sebenarnya? Ah…. itu cukup sebagai bumbu penyedap di tahun-tahun awal.
Waktu terus berjalan, pendekar-pendekar yang baru turun gunung lebih banyak berubah haluan jadi paranormal… para suhu geleng kepala, pendekar-pendekar senior ngacak-ngacak rambut sendiri…. pusing! Mereka sepakat kumpul-kumpul, berembuk, musyawarah nyari informasi…. nyari formula…. nyari tahu info terbaru… Keseriusan mewarnai pendopo tempat kumpul para petinggi, yang dianggap tinggi, dan yang meninggi…. Seperti yang lalu-lalu tema pembicaraan tidak jauh dari mencari jawaban dari pertanyaan: Musim apa sekarang?
Muka-muka tegang nan serius tiba-tiba dikejutkan bunyi HP dari saku celana sang mahaguru. Bunyi ringtone di sela-sela musyawarah penting… sangat tidak sopan! Ringtone-nya melengking pada nada yang tidak biasa … hadirin serempak menengok ke satu titik yang sama… kemudian hening… Sambil merogoh hp-nya, sang mahaguru meminta maaf pada semua karena yang nelpon adalah orang penting terpercaya sebagai informan dengan info penting. Mangkanya ringtone-nya diset unik pada nada aneh… Ketika HP nempel dikuping, dia cuman bilang: “Ya.. di es em es aja”. Sambungan langsung diputus tapi hp masih dipegang dan diplototi…. tiba-tiba.. bunyi SMS terdengar. Ibu jari sang mahaguru sigap memijit tombol milih menu “open message……”.
Hanya tiga kata dengan huruf kapital yang terlihat di layar ukuran 3 x 5 cm itu. Memandang wajah-wajah ingin tahu dari hadirin, sang mahaguru dengan bijaksana membacakan isi SMS dengan suara baritonnya.
“SEKARANG MUSIM MANGGA”
Hadirin saling beradu pandang………..
Apakah setelah itu padepokan berlambang pucuk daun bambu itu lantas merubah landasan mata ajarannya dengan memfokuskan diri pada jurus-jurus memetik mangga, melempar mangga, nyolong mangga, dsb? Sahabat kawannya temen ane hanya tutup mulut.
Angin berembus meniup pucuk daun bambu yang paling tinggi di kebun belakang… angin berhembus kadang dingin seger, kadang anget lembab, kadang kencang, kadang sepoi-sepoi, kadang dari utara kadang dari selatan.
Hari makin sore, sahabat kawannya temen ane permisi pulang….
Hujan mulai turun, angin makin besar, dia menghilang dibalik tembok rumah tetangga berlantai tiga. Penangkal petir di atap gentingnya terlihat tegak menunjuk langit menantang kilatan-kilatan dari awan. Tak pernah ada orang melihat baja ini melenggak-lenggok tertiup angin seperti pucuk daun bambu…
Huatchiiii…!! Mudah-mudahan orang baik itu nggak masuk angin….


