Information and Links
Join the fray by commenting, tracking what others have to say, or linking to it from your blog.
Urban Legends
Masih ingat cerita “Kolor Ijo” yang sempat meresahkan warga perempuan di pinggiran Jakarta? Konon kabarnya Si Kolor Ijo ini mencari perempuan untuk ditiduri (baca: diperkosa) sebagai syarat untuk memperoleh ilmu tertentu, atau pada cerita versi lain si kolor ijo ini digambarkan makhluk setengah manusia setengah monster. Entah dari mana dimulainya, kemudian memang tersiar lewat berita di surat kabar dan TV tentang laki-laki berpakaian minim, yang ternyata tidak selalu berwarna hijau itu, tertangkap menyantroni kamar perempuan. Sebuah acara TV juga pernah mewawancarai perempuan yang dikatakan merupakan “korban” si kolor ijo. Padahal mungkin saja pelaku justru mendapat ide modus operandinya dari cerita yang berkembang dari mulut ke mulut itu.
Urban legend biasanya merupakan kombinasi dari unsur horor, humor, moral atau pesan yang bisa menimbulkan rasa empati atau ada unsur peringatan. Kebanyakan juga merupakan cerita yang memiliki plot dan tokoh. Secara umum, urban legend (saya agak ragu untuk menyebutnya legenda kota.. atau mungkin lebih tepat disebut legenda perkotaan?) adalah cerita masyarakat modern yang menyebar dari mulut ke mulut (atau dari komputer ke komputer) yang sering disebut sebagai cerita sungguhan. Urban legend sering kali hanya merupakan cerita karangan, walau tidak selalu. Beberapa cerita bahkan memang benar-benar terjadi, tetapi sudah dibumbui tambahan-tambahan sehingga menjadi lebih dramatis atau menarik (menarik?).
Ya.. menarik untuk dijadikan bahan pembicaraan. Walau mungkin tidak mempercayai, setengah percaya setengah tidak, atau percaya seratus persen, topik ini memang asik dijadikan bahan ngobrol. Ngobrol ngalor-ngidul tanpa perlu mencari solusi seperti di warung kopi, misalnya, tidak jarang muncul kisah-kisah legenda seperti ini. Kekuatan dari mulut-ke-mulut (yang kemudian dimanfaatkan oleh metode pemasaran multi level marketing) atau friend of a friend (foaf) menjadi media penghantar yang efektif menyebarnya cerita seperti ini.
Cerita yang disampaikan seakan-akan benar-benar terjadi pada si pencerita atau si pencerita mendengarnya langsung dari yang mengalaminya, tapi yang membuatnya menjadi legenda adalah bagaimana cerita itu disampaikan. Kisah ini menyebar melalui cerita-cerita dari orang-orang terdekat, misalnya anda mendengarnya dari kawan dekat anda kemudian anda tertarik dengan cerita itu kemudian menceritakannya kembali ke kawan anda lainnya atau keluarga anda. Tapi tidak jarang juga cerita seperti ini justru menjadikan lebih akrab dengan kawan bicara yang baru dikenal.
Detil dalam kisah seperti ini juga membuat urban legend menjadi mudah menyebar dan seakan-akan benar terjadi. Misalnya saja cerita kolor ijo tadi terjadi dekat dengan daerah tempat tinggal anda dan pengetahuan anda tentang daerah itu (mental map), sampai ke detilnya sama dengan isi cerita itu sehingga anda (mungkin) mempercayainya.
Beberapa ahli mengatakan urban legend adalah bentuk modern cerita rakyat tradisional. Berbeda dengan mitologi, kisah-kisah dalam urban legend adalah kisah-kisah yang mungkin saja terjadi di antara kita. Isi ceritanya juga tidak melulu hal-hal besar atau menakutkan. Istilah “urban legend” ini pertama kali dikenalkan pada tahun 1981 oleh Jon Harold Brunvald, seorang profesor bahasa Inggris lewat bukunya “The Vanishing Hitchhiker: American Urban Legends & Their Meanings”. Brunvald menggunakan koleksi ceritanya dan menyebutkan ada dua poin dalam urban legend, pertama adalah legenda, mitos dan cerita rakyat bukan hanya milik orang primitif atau tradisional, dan kedua, kita bisa mengetahui banyak tentang budaya perkotaan dan budaya modern lewat cerita-cerita seperti ini.
Setiap tempat di seluruh dunia memang mempunyai kisahnya sendiri. Tidak hanya terjadi di negara yang katanya baru agak maju seperti Indonesia, negara seperti Amerika Serikat pun memiliki banyak legenda perkotaan seperti ini. Memang kebanyakan kisah di Indonesia berbau mistis, klenik dan sejenisnya. Kisah seperti ini ternyata juga berkembang melintasi tidak hanya antar kota, tetapi juga lintas negara dan benua. Cerita tentang tato temporer yang dijajakan di kalangan anak sekolah dasar, yang dikabarkan mengandung LSD juga berkembang di Indonesia, entah siapa yang memulai. Dikatakan LSD menyerap ke dalam kulit melalui tato temporer bergambar kartun yang disukai anak-anak seusia sekolah dasar.
Cara penyebaran yang dari mulut-ke-mulut ikut berkembang mengikuti teknologi. Yang unik adalah lewat e-mail. Jika pada cara penyebaran mulut-ke-mulut terjadi penambahan dan pengurangan sesuai interpretasi atau daya ingat si pencerita, penyebaran lewat e-mail memungkinkan cerita untuk tersebar utuh seperti aslinya. Hanya dengan tekan tombol Teruskan (Forward) maka cerita itu sudah terkirim ke orang lain yang jumlahnya bisa lebih banyak dalam waktu yang lebih cepat, tanpa interpretasi tambahan atau pengurangan, itulah maka di bagian sebelumnya di tulisan ini saya sebutkan cerita ini menyebar melalui komputer-ke-komputer. Anda mungkin tidak kenal dengan penulis aslinya, tapi si penulis aslinya bercerita langsung kepada anda. Saya ingat pernah mendapat e-mail tentang hadiah dari Microsoft, kisah dari Masjid Nabawi (yang pernah saya dapatkan dalam bentuk fotokopian sewaktu saya masih kelas V SD! Ya ampun itu tahun 1985.. 20 tahun yang lalu!), uang menurut peribahasa China (atau Mandarin? maaf saya kurang faham soal ini), penemuan kerangka manusia raksasa di Asia Barat Daya, virus komputer dan banyak lagi yang lainnya.
Mungkin menarik jika dibuat sebuah dokumentasi khusus untuk memuat cerita-cerita seperti ini. Diskusi dan analisis tentang urban legend di internet bisa dibaca lewat jalur newsgroup. Jika anda setuju dengan tesis Brunvald, mungkin kita bisa lebih memahami budaya masyarakat kota di Indonesia sekarang ini dari kumpulan urban legend versi Indonesia. Tertarik?
Situs about.com menyediakan kuis urban legend dengan gambar-gambar. Sayangnya tidak ada skor untuk menunjukkan berapa persen jawaban benar dan berapa persen salah… atau memang tidak perlu?
–dari berbagai sumber–



Superb…gua baru engeh emang ternyata gak ada yang mustahil di dunia ini.Images-nya keren.